Senin, 30 Maret 2015

CATATAN DOKUMEN
PUTI INDOJALITO DAN PUTO INDOJATI
Ada banyak versi yang meragukan tentang kedua nama ini yang kadang-kadang dilulur saja mentah-mentah tanpa melakukan cros-cek terlebih dahulu. Apalagi, bila informasi tersebut bersumber dari ceritera-ceritera yang bergalau, yang dapat mengaburkan sejarah. Judul tulisan di atas membuktikan kebenaran yang bergalau tersebut. Siapa Puti Indojalito dan siapa Puto Indojati ?
Nama yang sebenarnya dalam Tambo-Tambo atau buku-buku tentang Minangkabau disebut Indo Jalito, lengkapnya Puti Indo Jalito, di-Indonesiakan menjadi Putri Indera Jelita. Ada yang menyebut nya Putri Indah Jelita dan Ninik Inderajati. Dan ada pula yang menyebutkan bahwa Indojati itu seorang putri. Kosakata indo, berasal dari kata indra, bahkan akan menyesatkan bila diterjemahkan menjadi indah, sementara jalito menjadi jelita artinya adalah juga indah sehingga namanya bisa diacak menjadi Indra Jelita, Indo Jalito, Indah Juita, bahkan menjadi Indah Jelita.
Masyarakat tradisi di Semerup Kerinci bahkan ada yang menyebutnya Niniek Indo Jali saja, tetapi ada juga yang menyebut Indo Jaliah untuk tokoh yang sama. Apapun nama panggilannya untuk tokoh putri ini ceriteranya tetap merujuk kepada Puti Indo Jalito (Indojalito) , seorang keturunan Putri Gunung Merapi Asli, ibu kandung Sultan Paduka Besar, dengan gelar Islamnya Sultan Al-Malik Al Akbar. Minangkabau kemudian menyebutnya Sutan Malik Besar atau Sutan Maharajo Basa.
Edwar Djamaris dalam penelitiannya hanya menemukan satu Tambo yang menuliskan gelar Datuk Ketumanggungan ini dengan Sultan Al Malik Al Akbar. Sementara ada Tambo lainnya yang menuliskan dengan Sultan Malik Besar, Sultan Maharaja Besar, dan ini pulalah asal kata yang menjadi gelar Sutan Paduko Basa, yang bila diindonesiakan menjadi Sultan Paduka Besar. Dalam bahasa tradisi sehari-hari disebut Sultan Malik Besar, Sultan Sri Maharaja Besar atau Sutan Paduko Basa, yang kelak kemudian diangkat sebagai Penghulu Pucuk Bulek Urek Tunggang Kelarasan Koto Piliang dengan menjunjung gelar kebesaran adat sebagai Datuk Ketumanggungan. Ayah beliau paduka, yang menjadi suami Puti Indo Jalito adalah seorang raja yang naik ke pinggang Gunung Merapi, dikenal dengan nama Raja Natan Sangsita Sangkala yang digelari juga Sang Sapurba dengan nama dinasty Teramberi Tribuwana menurut cerita Sejarah Melayu.
Ketika resmi menjadi Raja Gunung Merapi di Pariangan, raja Sang Sapurba ini juga dinobatkan untuk menyandang gelar "Sultan Sri Maharaja Diraja", sebagai pemegang Tampuk Pulau Paco, Pulau Emas, Sumatera. Setelah Sultan ini meninggal dunia, kemudian Puti Indo Jalito kawin dengan seorang Cati Bilang Pandai, seorang Cendekiawan Alim Ilmu, dipanggil juga dengan gelar nama Niniek Indojati, di Indonesiakan menjadi Inderajati. Perkawinan ini menurut Djanuir Chalifah Sutan Indra (1970) melahirkan beberapa orang putra dan putri, yakni :
1. Sultan Indra Alam, yang kelak bergelar kebesaran adat sebagai Datuk Perpatih Nan Sabatang, pendiri Kelarasan Bodi Caniago.
2. Sultan Iskandar Johan Berdaulatsyah
3. Putri Lelo Suli
4. Putri Lelo Jati
5. Putri Ambun Suri, keturunannya ada di Malaka.
6. Putri Jamilan, kawin dengan Aditiawarman gelar Sultan Pandak sekitar tahun 1375.
Sementara itu banyak pula Tambo Minangkabau menyebut namanya sebagai :
1. Sutan Balun yang terkenal dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sabatang
2. Puti Reno Sudah (Puti Lelo Jati) di Bungo Satangkai.
3. Puto Cumatang Si Kalab Dunia yang kemudian menyandang gelar Datuk Sri Maharajo Nan Banego-nego (Sultan Iskandar Johan Berdaulatsyah)
4. Puti Reno Sudi (Lelo Suli) di Pariangan, Nagari Tuo.
5. Puti Reno Mandi, (Puti Ambun Suri) di Dusun Tuo.
6. Puti Reno Jalito (Puti Jamilan) di Ulak Tanjung Bungo, kemudian kawin dengan Aditiawarman.
Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang ini, dua saudara satu ibu lain ayah, kelak dikenal sebagai pendiri Adat Alam Minangkabau, dengan konsep pemikiran yang saling bertentangan tetapi menyatu dalam kehidupannya. Datuk Ketumanggungan pendiri Kelarasan Koto Piliang dengan prinsip “menitik dari langit” (manitiek dari langik), sementara Datuk Perpatih Nan Sabatang pendiri Kelarasan Bodi Caniago dengan prinsip “membersit dari bumi” (mambasuik dari bumi).
Pertanyannya sekarang : Apakah Raja atau Sultan yang menyandang gelar "Sultan Sri Maharajo Dirajo" ini hanya seorang saja dan hanya punya seorang istri bernama Putri Indojalito di Pariangan saja ? Selain itu, Raja atau Sultan yang mana sajakah penyandang gelar Sultan Sri Maharajo Dirajo itu ? Siapakah yang berhak memeberi dan memakai gelar “Sulthan Sri Maharajo Dirajo” itu ?
Sementara itu berkenaan dengan Putri Indojalito sendiri, walaupun terdapat berbagai perbedaan nama nama, tetapi pa da prinsipnya memiliki kesimpulan yang sama, bahwa Putri Indo Jalito dengan kakak laki-lakinya Datuk Suri Dirajo yang menjadi Penghulu Pariangan, sama didatangi oleh raja-raja besar dari luar, salah seorang yang naik ke lereng Gunung Merapi kawin/menikahi Putri Indo Jalito dan dinobatkan dengan gelar Sultan Sri Maharajo Dirajo, kemudian Indojalito berganti suami dengan Niniek Indojati atau Hyang Indo Jati, dengan panggilan Tuan Cati, seorang arif Candokio, bergelar Cati Bilang Pandai, menurut versi Tambo Minangkabau.Pertanyaannya siapa yang bergelar Tuwan Cati Bilang Pandai ini, dan siapa-siapa saja pewarisnya yang menyandang gelar ini kelak kemudiannya ?
Sementara Tuan Hyang “Indera Jati” atau Niniek Indojati merupakan tokoh sentral yang diyakini sebagai niniek mereka oleh masyarakat tradisi di bekas kerajaan Kesultanan di Indrapura, yang terletak di bagian selatan Kab. Pesisir Selatan Prov. Sumatera Barat. Tokoh ini dalam riwayatnya naik ke pinggang gunung Merapi yang kelak menurunkan keturunan raja-raja Gunung Marapi. Keturunan dari dinasti siapakah Hyang Indera Jati ? Kenapa ada di sebagian wilayah Kabupaten Pesisir Selatan yang berkeinginan memakai nama “Indrajati”, (Indojati) sebagai sebuah nama kabupaten baru yang dicita-citakan mereka?
Apakah sekarang masyarakat tradisi di Kabupaten Pesisisr Selatan masih “menyimpan rahasia” nama “Indojati”, khususnya di “Renah Indojati” tentang “saluak baluak” , seluk beluk sejarah Niniek “Indojati ini ?
Bahwa kalau ditelusuri perjalanan sejarahnya, dengan mengambil Aditiawarman sebagai faktor kunci penentuan periode zamannya, maka seperti diketahui bahwa Aditiawarman, adalah keturunan dari kerajaan Melayu Dharmasraya di sekitar Pulau Punjung, kembali ke Sumatera setelah lama dibesarkan dan mendapat pendidikan di Jawa sehingga mencapai ke dudukan sebagai salah seorang Wredamantri di Kerajaan Majapahit. Ia menduduki tahta Kerajaan Dharmasyraya pada tahun 1318 M (awal abad ke 14 M) menggantikan kedudukan ibunya Dara Jingga anak kandung “Tuanku Tiga Laras” yang pada zamannya seorang Raja Besar Melayu bernama Tribuwana Mauli Warmadewa.
Adityawarman kemudian pindah ke Pagaruyung setelah memperistri Putri Reno Jalito adik bungsu Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketumanggungan. Diangkat menjadi Raja Pagaruyung tahun 1340 M -1375M. Tetapi di masa tuanya konon menurut Buya Hamka ia memasuki agama Islam dan dinobatkan sebagai Sultan Pandak (I). Karena istrinya Puti Reno Jalito telah menyandang gelar sebagai Tuan Gadis Puti Jamilan (Islam). Gelar Sultan Pandak dan nama istrinya Puti Jamilan membuktikan keislaman mereka.
Dapat disimpulkan bahwa periode zaman Putri Indo Jalito dengan suaminya Sultan Sri Maharajo Dirajo yang kemudian berganti suami dengan Tuan Hyang Indojati, sampai kepada anak bungsunya Putri Reno Jalito yang menyandang gelar sebagai Tuan Gadis Jamilan, adalah sekitar abad ke 14 M. Abad ini menjadi awal keberadaan Nagari Pagaruyung sebagai Kerajaan Nagari yang kelak kemudian menjadi "Pusek Jalo" kerajaan-kerajaan se-Alam Minangkabau di Pulau Perca ini . (Di Pulau Perca, Pulau Emas atau Suwarnabhumi ini terdiri dari 8 wilayah kerajaan kesultanan yang pada prinsipnya praktis berdiri sendiri-sendiri, dikenal dalam Tambo sebagai wilayah "Sultan Nan Salapan"). Periode zaman ini manandai awal keberadaan sejarah Pagaruyung Minangkabau. Dan dari sini pula awal perjalanan sejarah yang menurunkan raja-raja di Alam Minangkabau dari Luak sampai ke rantau kemudiannya. Bagaimana riwayat dengan tali temalinya secara utuh ?
Bagaimana riwayat sebelum itu ? Sebelum alam bernama "Minangkabau" ?
Catatan dokumen Emral Djamal, 1994.
Diperbaharui, 2011.

Senin, 16 Maret 2015

KERAJAAN USALI KESULTANAN INDRAPURA, DI PESSEL (2)
Menurut Rusli Amran , Indrapura adalah daerah yang dahulunya paling besar, penting dan terkaya pula di pesisir barat Sumatera Barat. Kita melihat mundurnya terus menerus kerajaan ini dalam segala lapangan baik mengenai daerah, ekonomi maupun pemerintahan. Disamping Belanda dan Aceh, Inggris pun mempunyai minat besar sekali terhadap daerah ini.
Walaupun dalam banyak hal, Inggris ketinggalan dibanding dengan Belanda, tetapi khusus tentang Indrapura, Inggris gigih sekali berusaha menanamkan kekuasaan mereka disana. Riwayat Indrapura adalah cerita kenangan sejarah yang diwarnai kepiluan dan kesedihan.
Pernah merupakan suatu kerajaan luas membentang ke utara sampai-sampai melewati Padang, Pariaman, Tiku, Air Bangis, Barus, Natal, dan Meulaboh, ke selatan hingga Sungai Hurai. Walaupun formal sebagian dari Minangkabau, yang berpusat di Pagaruyung, tetapi praktis berdiri sendiri, merdeka, tanpa ikatan apapun.
Lada, rempah-rempah, dan emas adalah hasilnya yang terbesar dan sumber kekayaan dan kejayaan Indrapura. Tetapi oleh lada dan emas itu pulalah, Indrapura jatuh tak sanggup berdiri lagi.
Dari Catatan Emral Djamal Dt Rajo Mudo "Kerajaan Usali Kesultanan Indrapura Di Pessel.

Kamis, 12 Maret 2015

TRADISI, PENCAK SILAT, DAN ALAM MINANGKABAU
Pendahuluan
Di Indonesia berbagai kelompok masyarakat tradisi terlihat di dalam berbagai komunitas masyarakat etnis. Masyarakat etnis telah ada semenjak ratusan tahun yang lalu. Selama itu pula mereka telah menumbuhkan, memelihara, dan mengembangkan tradisi mereka. Setiap masyarakat etnis memiliki tradisi yang beragam. Umumnya setiap masyarakat etnis memiliki wilayah budaya tertentu pula, di mana ia lahir, tumbuh dan berkembang.
Dengan jelas bisa ditunjukkan beberapa wilayah budaya etnis seperti Aceh, Nias, Batak, Mandailing, Mentawai, Minangkabau, Melayu, Anak Dalam (Kubu), Jawa, Sunda, Badui, Banjar, Dayak, Bugis, Ambon, sejum lah etnis di Papua dan Nusa Tenggara, dan lain-lainnya. Masing-masing etnis berupaya menjaga identitas etnis mereka, sehingga untuk memelihara dalam waktu yang panjang, di perlukan berbagai upaya dan daya yang sung guh-sungguh sehingga eksistensi mereka sebagai suatu masyarakat etnis tetap harus berlangsungdan dapat dipertahankan.
Apakah itu Tradisi ?
Tradisi adalah produk dari suatu masyarakat tradisional. Tradisi terbentuk melalui proses kristalisasi kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat yang bersangkutan melalui masa yang panjang. Tradisi mem perlihatkan bagaimana anggota masyarakat bertingkah laku, baik dalam kehidupan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat ukhrawi, atau keagamaan.
Menurut KBBI, 1998 : 1).Tradisi adalah adat kebiasaan turun-temu run, diwarisi dari nenek moyang yang masih dijalankan di masyarakat. 2). Penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar. 3). Mentradisi, berarti menjadi tradisi. 4). Sementara yang dimaksud dengan tradisional, adalah sikap dan cara berfi kir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pada norma-norma dan adat yang ada secara turun temurun. Dengan perkataan lain tradisional ber arti menurut adat. Misalnya upacara tradisional, maksudnya upacara menu rut adat. Di dalam tradisi, masyarakat diatur bagaimana manusia berhu bungan dengan manusia lain, bagaimana manusia bersikap dan bertindak terhadap alam lingkungan dan alam yang lain. Ia kemudian berkembang menjadi suatu sistem, memiliki pola dan norma yang sekali gus juga menga tur penggunaan sanksi dan ancaman terhadap pelanggaran dan penyim pangan.
Sebagai sistem budaya, nilai tradisi merupakan sistem yang menyelu ruh, dari pemberian arti terhadap laku ajaran, laku ritual, dan berbagai jenis tindak laku dan perbuatan lainnya dari manusia atau sejumlah manusia (komunitas) yang melakukan tindakan antara satu dengan yang lainnya. Unsur terkecil dari sistem itu adalah simbol, meliputi simbol konstitutif (yang berbentuk sebagai aturan dan kepercayaan), simbol penilaian moral, dan simbol ekspresif atau symbol-simbol yang menyangkut pengungkapan perasaan. Setiap masyarakat tradisional memiliki simbol khas yang membe dakannya dari masyarakat (tradisional) lainnya. Karena itu mereka bersung guh-sungguh pula menghormati, memelihara dan menjaga simbol-simbol yang menjadi identitas mereka.
Semakin luas dan semakin berkembang suatu masyarakat tradisional, dalam arti bahwa masyarakat tradsional itu bersentuhan atau berada dalam lingkungan baru yang berbaur dengan masyarakat lain, maka akan semakin besar kemungkinan longgar pula sistem yang menyangkut para warga masyarakatnya. Tradisi menjadi lebih bervariasi. dan antara berbagai vari asi itu akan selalu ada faktor yang mengingat atau benang merah yang menghubungkan variasi yang satu dengan yang lain. Akan selalu ada ruju kan apakah suatu gejala atau nilai budaya masih dalam ruang lingkup tra disi atau tidak.
Masyarakat tradisi melihat “alam takambang” sebagai suatu kosmos, yang dalam tatanan kehidupannya selaras dan telah diatur oleh suatu ke kuatan hukum di luar kekuatan hukum manusia. Manusia tradisional melihat dirinya di dalam tatanan keseimbangan itu. Pandangan demikianlah yang melahirkan tradisi atau sistem budaya masyarakat tradisional.
Ada kewajiban setiap anggota masyarakat tradisional untuk memeli hara dan menjaga keselarasan dalam tatanan yang telah diatur itu. Menya lahi tradisi, berarti keluar dari sistem (kosmos) yang ada, berarti pula meng ganggu keselarasan serta merusak tatanan dan stabilitas alam (baik dalam hubungan makrokosmos atau mikrokosmos).
2. Pencak Silat
Pencak Silat, merupakan bagian dari warisan kebudayaan masya rakat Melayu Nusantara (a Haritage From Nusantara Arcipelago) dan dengan sendirinya merupakan satu kesatuan dengan persatuan masyarakat budaya Rumpun Melayu. Yakni masyarakat pribumi yang sekarang ini menghuni negara-negara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darsussalam. Oleh karena itu, asal usul, silsilah dan sejarah Pencak Silat juga merupakan bagian dari asal usul, silsilah dan sejarah kebudayaan masyarakat Rumpun Melayu.
Dimulai sejak ia belum dapat disebut sebagai Pencak Silat, sampai mencapai bentuk dan citranya yang sekarang kini. Pencak Silat mewarisi dan memiliki kazanah seni budaya yang besar. Sebagian sudah digali dan dikembangkan, namun masih banyak lagi nilai-nilai falsafah dan budaya nya yang masih terpendam. Dan mengundang para pecintanya untuk me nimba air dari telaganya bagi penggalian, pelestarian, penelitian, dan ka jian-kajian khusus yang lebih mendalam.
Oleh karena Pencak Silat berasal dari produk budaya lokal atau
tempatan, dalam kerangka budaya masyarakat Rumpun Melayu, maka gaya pelaksanaan Pencak Silat mempunyai corak budaya local / berdasarkan kearifan local. Dengan demikian di kalangan masyarakat Rum pun Melayu terdapat banyak gaya Pencak Silat yang bercorak lokal, tempatan. Gaya unik lokal dengan ciri-cirinya yang menonjol dan mudah dibedakan dari gaya lainnya, disebut Aliran Pencak Silat.
3. Silek Minang, Pencak Silat Minangkabau
Alam Minangkabau, adalah daerah sumber Pencak Silat yang ter masuk besar. Daerah sumber Pencak Silat lainnya yang besar di Indonesia adalah Jawa Barat. Aliran Pencak Silat Cimande yang terkenal dan terdapat di daerah ini kemungkinan merupakan sumber asal dari aliran-aliran Penak Silat lainnya di daerah Jawa Barat. Karena aliran Pencak Silat Cimande dan aliran-aliran yang berasal dari Pencak Silat Minangkabau sering disebut sebagai sumber dari berbagai aliran lain, maka tidak salah apabila dikata kan bahwa kedua aliran tersebut merupakan aliran dasar asli dari aliran-aliran Pencak Silat yang terdapat di Indonesia. (Edy Nalapraya. 1995. IPSI)
Menurut kesepakatan tokoh-tokoh Pencak Silat se-Sumatera Ba rat di Maninjau pada tahun 1984, aliran-aliran Pencak Silat yang terdapat di Alam Minangkabau berasal dari satu sumber saja, yakni aliran Silek Tuo dari Pariangan Padang Panjang. Sedangkan aliran-aliran yang berasal dari Silek Tuo adalah :
• Silek Lintau,
• Silek Sungai Patai,
• Silek Pangian,
• Silek Balam,
• Silek Sitaralak,
• Silek Siguridik,
• Silek Luncua (Pakih Rabun),
• Silek Sacabiek Kapan,
• Silek Koto Anau,
• Silek Sungai Pagu,
• Silek Unggan,
• Silek Gayuang Salacuik,
• Silek Jantan dan Silek Batino,
• Silek Harimau,
• Silek Rantau,
• Silek Pangiraian,
• Silek Sunua,
• Silek Ulu Ambek,
• Silek Pasia,
• Silek Paninjauan,
• Silek Alang,
• Silek Natal,
• Silek Gajah Badorong,
• Silek Alif,
• Silek Lamo,
• Silek Kumango,
• Silek Baru,
• Silek Buah Tarok,
• Silek Bayang,
• Silek Buayo Lalok,
• Ilau,
• Silek Gunuang dan
• Silek Pauh. (IPSI,1995)
Nama nama aliran Silat yang tersebut di atas, sebenarnya perlu pene litian lebih lanjut tentang keberadaannya karena nama nama aliran Silek yang dimunculkan pada saat pertemuan tuo-tuo Silat tersebut di atas, mem buktikan kepada kita bahwa sebenarnya Alam Minangkabau memang kaya dengan keberagaman aliran alirannya. Namun kenyataannya, kita tidak memiliki catatan tertulis atau daftar baku tentang aliran-aliran Silat Mi nangkabau yang berkembang itu, bahkan kita tidak mengetahui sejauh mana keberadaan dan perkembangannya sampai sekarang. Kecuali barang kali pada masing-masing guru tuo yang masih aktif membinanya.
Kesepakatan yang kemudian dicatat IPSI ini, berawal dari pertemuan tuo-tuo Silek dan pakar Silat Tradisional Minangkabau (Silek Minang), keti ka berlangsungnya Festival Pencak Silat Tradisional Galanggang Siliah Baganti IV (GSB-IV) di Maninjau 23 Desember 1983. Pertemuan itu meng hasilkan kesepakatan bahwa Silat Minang berasal dari satu sumber saja, yaitu Pariangan di Kabupaten Tanah Datar. Aliran Silat itu disebut sebagai Silek Tuo Pariangan.
Kesepakatan itu diambil berdasarkan perjalanan sejarah asal usul nenek moyang dan sistem migrasi penduduk Minangkabau yang turun dari pinggang Gunung Marapi menuju rantau. Sementara Pariangan di dalam Tambo Minangkabau disebutkan sebagai Nagari Tuo. Hal ini terjadi pada zaman Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuak Katumanggungan, bersa ma mamak kandung mereka Datuk Suri Dirajo, yang diakui sebagai tokoh utama pendiri Adat Alam Minangkabau (disingkat AAM), di Sumatera Barat.
Nagari Pariangan diakui sebagai Nagari Tuo, dimana seluruh nenek moyang orang Minangkabau berasal dan turun dari nagari Pariangan tesebut. Dengan demikian dikatakan juga bahwa seluruh bentuk Budaya Alam Minangkabau (BAM) juga berawal dan turun dari naga ri tersebut, walaupun kemudian berbeda gaya, dan corak pelaksanaannya. Dari konteks budaya, sebuah adagium adat mengatakan : adat menurun, syarak men daki.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa dari sisi kebudayaan (adat) Pencak Silat ditransformasikan dari pusat kebudayaannya, yakni Nagari Tuo Pariangan. Sementara nilai-nilai syarak justru datang kemudian men daki dari laut ke pinggang Gunung Marapi yang dibawa oleh penyiar-penyiar agama Islam. Kedatangan Islam ternyata tidak menafikan Pencak Silat, bahkan mengukuhkan tempat tegaknya dengan sempurna, seperti juga Adat Alam Minangkabau (AAM) itu sendiri yang dikukuhkan sendi-sendi dasarnya sesuai dengan ajaran agama Islam.
Pengukuhan tersebut melahirkan ikrar, buek nan bajanji, ikara nan bauni untuk berpegang teguh kepada landasan ideal kehidupan Alam Mi nangkabau, yakni :
Adat Basandi Syarak
Syarak Basandi Kitabullah,
Syarak Mangato Adat Mamakai
Alam Takambang Jadikan Guru.
Namun demikian agaknya diperlukan penelitian lebih lanjut, sejauh mana “tua”nya Pencak Silat itu di kaki Gunung Merapi tersebut. Karena sejarah telah mengungkapkan bahwa periode zaman kehidup an Datuk Suri Dirajo, Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Katumanggungan itu, bersamaan atau “lebih dahulu selangkah” dari zaman kehadiran Adityawar man yang memindahkan kekuasaannya dari Darmasyraya ke Surawasa, kemudian ke Pagaruyung, sekitar awal abad ke 13-14 M. Pada hal kehi dupan manusia jauh sebelum itu juga sudah ada di kaki Gunung Merapi.
Hal ini, terbukti dari isyarat-isyarat yang diberikan Tambo Alam Mi nangkabau tentang keberadaan kerajaan-kerajaan Galundi Nan Baselo, Sandi Laweh, Pasumayam Koto Batu, dan lain –lainnya, sebelum adanya Pariangan - Pagaruyung.
Isyarat ini mengingatkan kita, bahwa jauh sebelum zaman Datuk Per patih Nan Sabatang, Datuak Ketumanggungan ber sama mamaknya Datuk Suri Dirajo, ilmu beladiri Pencak Silat (barang kali pada zaman itu belum dinamakan Pencak Silat) sebenarnya telah ada.
Setidak-tidaknya kita dapat mengambil kesimpulan sesuai perjalanan AAM itu sendiri, yakni di zaman Datuak Suri Dirajo Penghulu Tuo (pangu lu pertama) di Pariangan. Datuak Suri Dirajo adalah kakak kandung dari Puti Indo Jalito yang bersuamikan seorang raja besar bergelar Sri Maha rajo Dirajo, sebagai pemegang tampuk Pulau Perca (Sumatera) pada zaman itu. Itu berarti, jauh sebelum abad ke 13 M, di daerah pinggang Gunung Marapi sebenarnya telah ada sejenis “ilmu bela diri” yang lebih tua lagi, se belum hadirnya Pariangan.
Siapakah yang membawanya ke pinggang Gunung Merapi ?
Menurut keterangan Tuo-Tuo Silek di Kubuang Tigo Baleh Solok, pengorganisasian Silek pertama kali dilakukan oleh Datuk Suri Dirajo, mamak kandung Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Saba tang di Pariangan. Datuk Suri Dirajo diceritakan oleh banyak Tambo Mi nangkabau, adalah tokoh utama Pariangan yang membimbing 2 (dua) orang kemenakannya dalam menata kehidupan social budaya di Pariangan.
Apalagi pada masa mudanya kedua kemenakannya ini sering berke lahi. Tambo Minangkabau mencatat kedua bersaudara lain ayah ini sejak mudanya sering bertengkar mengadu pendapat (argument) masing-masing, sampai-sampai menimbulkan bentrok fisik / perkelahian sesama mereka.
Menurut Kunun Datuk. Rajo Nan Gadang (wawancara, 1990) seorang tokoh niniek mamak tertua, dari nagari Guguak, Kubuang Tigo Baleh, mengatakan bahwa di Pariangan ada dua macam Silek yang di kembangkan Datuk Suri Dirajo selaku Pangulu tertua Pariangan, yakni Silek Nan Baragak dan Silek Nan Pakok Mati.
Silat itu disebut Gayuang (Gayung), lebih populer disebut sebagai “ilmu gayuang”, yang berkonotasi ilmu batin (ruhaniyah). Pada hal ilmu Gayuang ini terdiri atas dua macam yakni Gayuang Baragak dan Gayuang Mati. Gayuang Baragak adalah tenik Gayung secara fisikal dengan berge rak menggunakan kaki untuk menggayung lawan dan Gayung Mati adalah Silat Gayung secara non fisikal / batin. (Bersambung .. )
Salimbado Grup, Pusat Kajian Tradisi Minangkabau
Pengasuh

Selasa, 10 Maret 2015

Menguak Tabir Alam Fikiran MINANGKABAU




Banyak para ahli ilmu pengetahuan telah menyadari bahwa pengetahuan lewat berbagai peninggalan benda-benda budaya dan pemikiran-pemikirannya di masa lalu, serta pengenalan tentang hakekat kemanusiaan, akan memberi arah tuntunan dalam pencarian-pencarian nilai-nilai hidup manusia dan kemanusiaan itu. Untuk kemudian dapat becermin diri.
Dan dengan mendalami merenungi, dan memahami nilai-nilai akal budi manusia dan kemanusiaannya, serta berbagai nilai-nilai peninggalannya tentulah dapat membangkitkan potensi dari aras kesadaran manusia, yang pada gilirannya kemudian dapat mewujudkan upaya-upaya baru dalam mengendalikan sifat-sifat manusia kearah kemanusiaannya yang “manusiawi”. Karena manusia yang “berperi kemanusiaan”, hanya dapat terwujud pada pribadi-pribadi yang benar-benar menyadari, memahami, dan memaklumi hakekat manusia dan kemanusiaan “yang berperi kemanusiaan” itu sendiri. Lain tidak.

Berbagai tingkat kecerdasan sesuai dengan kualitas akal budi yang dimiliki manusia sepanjang zaman, mencoba merumuskan nilai-nilai kemanusiaan itu. Namun selalu saja terbentur kepada hal-hal yang bersifat relatif. Dan pada tingkat kesadarannya yang paling tinggi tentang yang “relatif” itu, yang tak mungkin lagi dijangkau dengan akal-fikirannya, dengan kecerdasannya, akhirnya manusia itu akan jatuh tersungkur.
Menyerah dalam kesadaran lain, bahwa di balik kecerdasan akal-fikiran ini, ada “sesuatu kekuatan” yang tak mungkin ditembus dengan akal fikiran, bahkan pada puncaknya akal fikiran itu “dipaksa” berhenti untuk kemudian menyerah dan berserah diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Tinggi.
Bila manusia, khususnya manusia dengan akal budi “Minangkabau” dalam perjalanan sejarahnya telah sukses melakukan perantauan fisik, dan perantauan intelektual di luar sana maka sekarang haruslah diimbangi dengan kemampuan penalaran nilai-nilai warisan budaya lokal (nilai-nilai kearifan local) peninggalan nenek moyangnya yang hidup menetap di alam kawasannya sendiri.
Sehingga dapat menolak sindiran atau penafsiran sementara orang, bahwa “Minangkabau” sekarang seperti “mangkutak” yang hanya bermain melepas layang-layangnya ke langit tinggi. Sehingga menyebalkan hati “sabai nan haluih” sang kakak perempuannya yang kreatif dan produktif, bahkan seorang pendekar putri yang mampu “tagak luruih bakato bana” mampu bicara benar dalam membela ketidak adilan.
Semangat mengembara perlu terus dibangkitkan, dikobarkan serta dikembangkan. Terutama pengembaraan akal budi yang memanusia. Rasa puas diri dan rasa tidak berdaya sama saja bahayanya. Namun lebih dari itu, pikiran-pikiran bernas dari para perenung kreatif, seharusnya tidak hanya tinggal di langit, terbang diawang-awang, tetapi haruslah turun kembali “membumi”, ber- apresiasi dengan aplikasinya di dunia nyata.
Bila “Minangkabau” tidak berjuang jadi manusia “Minangkabau Baru”, yang juga berarti “Manusia Indonesia Baru”, manusia Universal, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama nilai-nilai budaya “Minangkabau” termasuk “limbago”nya akan terbenam jauh ke kerak bumi. Dan “Minangkabau” sebagai wilayah budaya yang seharusnya memperkaya khasanah budaya Indonesia bahkan Nusantara bisa lenyap dari peta kebudayaan. Akibatnya “tidak diperhitungkan lagi”, karena dianggap tidak ada.
Tulisan ini mencoba mangampuangkan nan taserak, mengais-ngais tanah pijakan, marosok-rosok kedalamn gauang Alam Fikiran Minangkabau itu, lalu dalam sebuah diskusi pada komunitas/grup kecil Lembaga Kajian Tradisi Minangkabau, mencoba “maindang manampi tareh”, memilah-milah topik, memperkatakannya, mencencang, membolak balikkan, menjawab, atau merumuskannya terserah kepada siapa yang menikmatinya. Hasil pembicaraan itu kemudian disusun dalam bentuk tulisan khas yang disebut Silek Kato.
Seperti guntingan-guntingan kain tak berguna, menyambung paco-paco dan menjahitnya menjadi lembaran-lembaran baru yang warna warni bagaikan tirai atau tabir yang dapat dibentangkan pada dinding, diruang ruang khalayak.
Dan tulisan ini kemudian menjadi artikel dengan 28 buah anak judul yang telah dimuat secara bersambung pada Mingguan Singgalang, dibawah judul pokok (rubrik) “Silek Kato” Minggu 9 Maret 2003 sampai dengan Minggu 14 September 2003 yang lalu.
Atas saran dan permintaan teman-teman, penulis menyusunnya kembali dalam bentuk kumpulan ini. Untuk melengkapinya, ada 13 judul tulisan lagi yang ditambahkan, sebagian telah dimuat juga pada Singgalang Minggu tahun 2003 dan sebagian ada yang belum.
Semoga tulisan ini dapat menggelitik para ahli, terutama para pemerhati, bahkan peminat serius yang melakukan penelitian nilai-nilai kearifan lokal Budaya Alam Minangkabau di Sumatera Barat ini, atau pemerhati budaya dimana saja, terserah memilah-milahnya untuk mendapatkan judul lembaran paco-paco baru sebagai topik diskusi, dalam upaya mendalami lebih baik, sesuai dengan minat masing-masing.

Autobiografi

Emral Djamal Datuk Rajo Mudo (lahir di Nagari BayangKabupaten Pesisir SelatanSumatera Barat22 Maret 1944; umur 70 tahun) adalah seorang budayawan, penggali dan penggerak silat tradisional Minangkabau, sekaliguspenghulu dari Suku Tanjung di Nagari Bayang. Ia sering menjadi narasumber dan pemakalah pada berbagai forum diskusi tentang budaya alamMinangkabau, baik di dalam atau di luar daerah Sumatera Barat. Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam beberapa harian yang terbit di Padang.
Ia banyak menulis tentang silek, adat, dan sejarah Minangkabau yang digali dari warisan tradisi di Minangkabau yang berupa pidato-pidato adat, gelar-gelar adat, pitutur, wawancara dengan para pemuka adat dan tuo silek, pepatah petitih, dan naskah-naskah kuno. Ia menjadi salah seorang penggerak kegiatan Galanggang Siliah Baganti (GSB), suatu acara festival silat tradisional Minangkabau sebagai bentuk nyata dari upaya mempertahankan tradisi silek di Minangkabau dari kepunahan.
Sejak tahun 1989, ia mulai menelusuri, meneliti, dan menulis sejarahKesultanan Inderapura atas permintaan Sutan Boerhanoeddin Sultan Firmansyah Alamsyah, ahli waris Kerajaan Kesultanan Inderapura agar tidak tenggelam begitu saja karena lokasi Inderapura saat sekarang terpencil dan jauh dari pusat kota. Sulit membayangkan saat sekarang bahwa Kerajaan Inderapura di masa lalu adalah daerah yang besar dan ramai dikunjungi oleh berbagai bangsa di seluruh dunia. Penelitian tersebut kemudian dimuat diHarian Singgalang dalam bentuk tulisan bersambung dan naskah ranji raja-raja di Kesultanan Inderapura yang dimiliki oleh Soetan Boerhanoeddin dipublikasikan pada Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VIII di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif HidayatullahJakarta, 26–28 Juli 2004.

Karya-karya

  • Penyusun kaba Pusako Minangkabau, Bonsu Pinang Sibaribuik, kisah yang dilatarbelakangi perjuangan masyarakat Minangkabau di Pesisir Selatan melawan Portugis [1]. Kaba ini mendapatkan apresiasi dari berbagai kalangan akademisi yang mengungkapkan tentang human trafficking di masa lalu yang jarang disebutkan di dalam karya sastra Indonesia [2]. Penulisan kaba ini disponsori oleh salah seorang pejabat tinggi dari Malaysia Dr. Rais Yatim [3]
  • Puisi
    • Rindu Dan Bayang-Bayang Putih (kumpulan puisi) bersama dengan A. Caniago Hr. Dt. Rajo Sampono (alm.), Taman Budaya Padang, (ca. 1994)
    • Layang Layang Darek (kumpulan puisi), penerbit Dewan Kesenian Sumatra Barat (1997)
    • Kulindan Sumur Tua (kumpulan puisi), belum diterbitkan, tapi sudah dibacakan beberapa kali di Taman Budaya, Padang.
  • Silek Kato (Silat Kata) dimuat di surat kabar Mingguan Singgalang, Padang dari Minggu 9 Maret sampai dengan 14 September 2003 [4]
  • Sejarah Minangkabau (berbagai tulisan sudah dimuat di mass media di Sumatera Barat)
    • Menelusuri Jejak Lamin-Lamin Sejarah Alam Minangkabau: Kesultanan Inderapura Teluk Air Dayo Puro di Pesisir Selatan, dimuat secara bersambung di Mingguan Singgalang (1996)
    • Menelusuri jejak sejarah dan salasilah kerajaan usali Kesultanan Inderapura di Pesisir Selatan, Sumatera Barat [5]
    • Melayu, Suwarnabhumi Pulau Ameh, Pulau Paco [6]
    • Kekuasaan Portugis dan Aceh di Rantau Pesisir Barat [7]
    • Menikam Jejak Sejarah Melayu Nusantara dari Pusat Pulau Emas, Sumatera [8]
    • Datuak Di Ngalau, Dapunta Hyang Sailendra Gunung Marapi [9]
    • Banda Sapuluah dan Rantau Sungai Pagu [10]
    • Catatan Tentang Puti Indojalito dan Puto Indojati [11]
    • Silek Kato, Mengungkap Misteri Salasilah Sejarah Minangkabau dan Rantaunya (1-15) diterbitkan di MingguanSinggalang di Padang sejak 16 Maret 2003 s/d 31 Agustus 2003
  • Emral Djamal. Karya sastra sebagai sumber sejarah : Sebuah pembicaraan awal tentang karya sastra sejarah batang kebudayaan Melayu Minangabau. Sastra Bung Hatta, volume I tahun 2002.

Kegiatan-kegiatan

  • Pencak silat:
    • Dewan Juri Seni Beladiri pada acara Penataran Pencak Silat Region yang dilaksanakan oleh The International Pencak Silat Federation (Persilat) tanggal 30 Juni 1997 di Jakarta
    • Anggota Pengurus Daerah (sekarang Pengurus Provinsi) Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumatera Barat, (1981-sekarang 2012).
    • Juri Seni dan Beladiri pada Kejuaraan Dunia Pencak Silat, Jakarta (1992) yang pada waktu itu presiden Persilatdijabat oleh Eddie M Nalapraya dan Prabowo Subianto menjabat sebagai ketua panitia.
    • Dewan Pendekar Nasional pada Festival Pencak Silat Nasional I di Padepokan Pencak Silat PB. IPSI, Jakarta (2003)
    • Salah seorang penggagas dan aktivitis dari Galanggang Siliah Baganti (GSB) yang merupakan ajang pertemuan silat tradisional di Minangkabau
    • Ketua Unit Khusus Galanggang Siliah Baganti (GSB) Pengurus Provinsi Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumatera Barat (2012-2016)
    • Wasit dan Juri Pencak Silat di berbagai kegiatan pertandingan Pencak Silat, terutama Silat Tradisional Minangkabau. Padang, Sumatera Barat.
    • Penyaji Makalah pada kegiatan International Silat Festival and International Silat Discussion Luhak Nan Tuo II - 2008 pada tanggal 28-30 November 2008. Padangpanjang Sumatera Barat.
  • Pagelaran Seni
    • Emral Djamal bersama Makmur Hendrik tampil dalam Opera Randai Cindua Mato garapan Sutradara Nazif Basir pada Malam Resepsi Penutupan Konferensi Mentri Penerangan Negara-Negara Non Blok di Jakarta, Sabtu malam tanggal 28 Januari 1984.
    • Pembaca puisi di Pusat Kebudayaan Universitas Malaya, Akademi Seni Kebangsaan, Dewan Bahasa dan PustakaMalasyia, Institut Teknologi Mara, Shapadu Sdn. Bhd. Central Market, SMK Sri Pantai Kuala LumpurMalaka danJohor Bahru, 24-28 April 1999.
    • Pembaca puisi pada malam pembacaan puisi-puisi penyair Malaysia yang diselenggarakan di Rumah Pena, Kuala Lumpur. (Januari – Juli 2000).
    • Pimpinan Kontingen pada kegiatan Pesta Kesenian Bali XXIV tanggal 20 Juni - 20 Juli 2002 di Taman Budaya Denpasar.
    • Ketua Dewan Juri Festival Randai, Pekan Budaya Sumatera Barat, Festival Minangkabau 2004, tanggal 18-24 Desember 2004.
  • Staf Pengajar
    • Mengajar falsafah Budaya Alam Minangkabau pada kursus yang diselenggarakan oleh Sanggar Teater Fauziah Nawi Sdn. Berhad, Selangor Darul Ehsan bekerjasama dengan Akademi Penulis Nasional Malaysia di Rumah PENA (Pusat Penulis Nasional) Kuala Lumpur (Juli 2000),
    • Staf Pengajar Luar Biasa di Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Sastra Sastra Universitas Andalas (2002-2004).
  • Anggota Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) – Komite Daerah (1993-1996)
  • Pengasuh Grup Kajian Tradisi Minangkabau pada Komunitas Salimbado Buah Tarok-Padang sampai sekarang
  • Pengasuh Rubrik “Taruko” pada Suara Afta Tabloid Pertanian, Universitas Andalas sampai sekarang (2012). [12]

Seminar-seminar

  • Pertemuan Sastrawan Nusantara X, Pertemuan Sastrawan Malaysia I, 1999 di Negeri Johor Darul Ta’zim, Malaysia.
  • Pembicara dan memberi Pembekalan pada Pelatihan Guru / Kordinator Kesenian / Budaya Alam Minangkabau di lingkungan Dinas Pendidikan Kota Padang, yang dilaksanakan pada tanggal 3 s/d 11 Juni 2003 di Padang.
  • Pembicara dalam Simposium International Pernaskahan Nusantara VIII yang diselenggarakan di Kampus UIN-Syarif Hidayatullah – Ciputat, Jakarta bersama Kelompok Kajian Puitika pimpinan M. Yusuf M.Hum, ahli filologi Universitas Andalas, Padang, dengan kertas kerja: Menelusuri Jejak Sejarah: Manuskrip Kerajaan Usali Kesultanan Inderapura Di Pesisir Selatan – Sumatera Barat (26-28 Juli 2004)[13]
  • Pembicara pada diskusi tentang “ Padang Sejarah dan Budayanya” yang diselenggarakan oleh Museum Adityawarman Padang, 8 November 2007.[14]
  • Musyawarah Adat - Aplikasi Manajemen Suku dan Pemberdayaan Hukum Adat dalam Hukum Nasional Meningkatkan Peran Ninik Mamak Melaksanakan Hukum Adat dalam Kerangka Hukum Nasional pada tanggal 24-25 Maret 2012 di Solok Sumatera Barat.

Penghargaan-penghargaan